PENGHANCURAN ISLAM : Serangan Terhadap Akidah dan Syariat Islam
Focus Oleh : Redaksi 07 Aug 2005 - 1:00 am
Oleh: Maman Kh.
Dosen UIN Syarief Hidayatullah Jakarta, Kandidat Doktor
“Saya tidak tahu apa yang akan dikatakan kaum Muslim seandainya mengetahui kisah-kisah Abad Pertengahan dan memahami nyanyian orang-orang Kristen? Seluruh nyanyian dibalut dengan kebusukan dendam terhadap kaum Muslim dan membodohkan agama mereka. Dari syair-syair lagu itu, diciptakan dogma aib kisah-kisah dalam akal yang menentang Islam dan mengokohkan kekeliruan pemahaman….” (CH. Descartes)1
Mukadimah
Rasa permusuhan kaum Nasrani terhadap Islam tidak akan mudah terhapus. Sejarah hubungan di antara keduanya memang menyebabkan munculnya rasa kebencian yang luar biasa terhadap Islam. Beberapa abad setelah Perang Salib kaum Muslim bangkit menjadi kekuatan politik dan militer yang sangat besar. Pada abad ke-16 kaum Muslim berhasil menaklukkan Konstantinopel, ibukota Kerajaan Romawi Timur, yang merupakan pusat kekuasaan dan kebanggaan kaum Nasrani.
Penaklukkan Konstantinopel disusul oleh berbagai penaklukkan yang merambah Eropa Selatan dan Timur, yang berhasil membawa Islam ke negeri-negeri tersebut. Berjuta-juta bangsa Albania, Yugoslavia, Bulgaria, dan bangsa-bangsa lainnya berbondong-bondong masuk Islam.
Penaklukan ini melahirkan Perang Salib gaya baru dan memunculkan gerakan orientalisme. Permusuhan terhadap Islam mengakar dalam jiwa mereka. Mereka mengirimkan para misionaris ke negeri-negeri Islam dengan mengatasnamakan sekolah, rumah sakit, kelompok studi, dan klub-klub pengembangan ilmu. Ketika berhasil menaklukkan al-Quds, Lord Allenby mengatakan, “Hanya pada hari ini Perang Salib berakhir.”2 Artinya, semangat permusuhan dan penghancuran Islam tidak akan berakhir.
Karena itu, dengan mengamati fakta berupa pernyataan dan tindakan, baik yang dikemukakan para orientalis maupun tokoh-tokoh Islam, tulisan ini menyajikan upaya-upaya penghancuran Islam, terutama yang terkait dengan penghancuran akidah, peraguan terhadap sumber-sumber hukum Islam, serta peraguan terhadap syariat Islam.
Teologi Inklusif: Penghancuran Akidah Islam
Seruan terhadap teologi inklusif, pluralisme, dan dialog antaragama perlu diwaspadai sebagai upaya penghancuran akidah Islam. Teori pluralisme yang inklusif (terbuka) berarti, “semua agama memiliki tujuan yang sama dan memiliki kebenaran yang sama.” Mengutip John Hick, Budhy M. Rahman mengartikan teologi pluralisme sebagai, “Other religions are equally valid ways to the same truth.” (Agama-agama lain merupakan cara yang sama dan valid bagi keimananan yang sama).
Mengacu pada John B. Cobb Jr, Budhy mengungkapkan, “Other religions speak of different but equally valid truth.” (Agama-agama lain berbicara tentang cara yang berbeda, tetapi memiliki kebenaran yang sama). Sejalan dengan itu, Budhy MR menyetujui pernyataan Raimundo Panikkar bahwa, “Each religion express es an important part of the truth.” (Masing-masing agama mengungkapkan bagian penting dari kebenaran). 3
Lebih jauh Budhy MR menegaskan, bahwa kerukunan umat beragama hanya dapat dicapai jika para pemeluk agama menganut dan mengembangkan teologi pluralis atau teologi inklusif. Sebaliknya, teologi ekslusif (yang menyakini hanya agama yang dianutnya yang benar, pen.) tidak kondusif dan menjadi akar munculnya konflik antaragama.4
Senada dengan Budhy MR, Komaruddin Hidayat dalam acara Mutiara Subuh AN-TV, 14 Juni 2000, mengatakan bahwa pada masa Nabi Muhammad saw. orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak dikatakan sebagai orang ‘kafir’, tetapi disebut sebagai ‘Ahlul Kitab.’ Dari pernyataan ini, Hidayat seakan-akan ingin menegaskan bahwa Yahudi dan Nasrani merupakan agama yang benar sebagaimana Islam, sehingga para pemeluknya tidak masuk kategori kafir, dan dengan sendirinya akan masuk surga. Demikianlah, menurut pandangan para penganut teologi inklusif-pluralis, agama apapun -- baik Islam, Yahudi, maupun Nasrani — adalah benar dan dapat dijadikan jalan menuju keselamatan. Anand Krishna, salah seorang penganut paham penyamaan kebenaran agama melukiskan, perbedaan antaragama itu hanya dalam cara, tetapi hakikatnya memiliki tujuan yang sama. Ia menegaskan, “…Jalan berbeda, jelas-jelas berbeda. Tetapi apabila kita mengangap tujuan pun berbeda, maka sesungguhnya kita musyrik. Justru kita yang menduakan Allah, menduakan Tuhan. (Republika, 3/8/ 2000).
Said Aqiel Siradj yang dikenal sebagai tokoh Islam dari kalangan Nahdhatul Ulama (NU) menganggap bahwa agama Nasrani, Yahudi, dan Islam memiliki asal geneologis yang sama, bermuara kepada Ibrahim. Ketiga agama tersebut memiliki komitmen yang sama untuk menegakkan kalimat tauhid. Siradj bahkan menegaskan, “…Tauhid Kanisah (gereja, pen.) Ortodoks Syiria tidak memiliki perbedaan yang berarti dengan Islam.” Demikian potongan tulisan Siradj yang dimuat dalam buku Bambang Noorsena, tokoh Kristen Ortodoks Syiria.5
Padahal sesungguhnya kekufuran Nasrani dan Yahudi merupakan sesuatu yang sudah jelas. Qaradhawi menegaskan, kekufuran tersebut terlihat bagi individu Muslim yang memiliki ilmu keislaman walaupun sebesar atom. Hal ini juga merupakan sesuatu yang disepakati oleh seluruh umat Islam dari seluruh mazhab dan aliran pemikiran sepanjang masa, baik kalangan Ahlus Sunnah, Syiah, maupun Khawarij.6
Labels: agama
