Melepas Opini

Monday, June 18, 2007

PENGHANCURAN ISLAM : Serangan Terhadap Akidah dan Syariat Islam

Focus Oleh : Redaksi 07 Aug 2005 - 1:00 am

Oleh: Maman Kh.
Dosen UIN Syarief Hidayatullah Jakarta, Kandidat Doktor
“Saya tidak tahu apa yang akan dikatakan kaum Muslim seandainya mengetahui kisah-kisah Abad Pertengahan dan memahami nyanyian orang-orang Kristen? Seluruh nyanyian dibalut dengan kebusukan dendam terhadap kaum Muslim dan membodohkan agama mereka. Dari syair-syair lagu itu, diciptakan dogma aib kisah-kisah dalam akal yang menentang Islam dan mengokohkan kekeliruan pemahaman….” (CH. Descartes)1

Mukadimah
Rasa permusuhan kaum Nasrani terhadap Islam tidak akan mudah terhapus. Sejarah hubungan di antara keduanya memang menyebabkan munculnya rasa kebencian yang luar biasa terhadap Islam. Beberapa abad setelah Perang Salib kaum Muslim bangkit menjadi kekuatan politik dan militer yang sangat besar. Pada abad ke-16 kaum Muslim berhasil menaklukkan Konstantinopel, ibukota Kerajaan Romawi Timur, yang merupakan pusat kekuasaan dan kebanggaan kaum Nasrani.

Penaklukkan Konstantinopel disusul oleh berbagai penaklukkan yang merambah Eropa Selatan dan Timur, yang berhasil membawa Islam ke negeri-negeri tersebut. Berjuta-juta bangsa Albania, Yugoslavia, Bulgaria, dan bangsa-bangsa lainnya berbondong-bondong masuk Islam.

Penaklukan ini melahirkan Perang Salib gaya baru dan memunculkan gerakan orientalisme. Permusuhan terhadap Islam mengakar dalam jiwa mereka. Mereka mengirimkan para misionaris ke negeri-negeri Islam dengan mengatasnamakan sekolah, rumah sakit, kelompok studi, dan klub-klub pengembangan ilmu. Ketika berhasil menaklukkan al-Quds, Lord Allenby mengatakan, “Hanya pada hari ini Perang Salib berakhir.”2 Artinya, semangat permusuhan dan penghancuran Islam tidak akan berakhir.

Karena itu, dengan mengamati fakta berupa pernyataan dan tindakan, baik yang dikemukakan para orientalis maupun tokoh-tokoh Islam, tulisan ini menyajikan upaya-upaya penghancuran Islam, terutama yang terkait dengan penghancuran akidah, peraguan terhadap sumber-sumber hukum Islam, serta peraguan terhadap syariat Islam.
Teologi Inklusif: Penghancuran Akidah Islam

Seruan terhadap teologi inklusif, pluralisme, dan dialog antaragama perlu diwaspadai sebagai upaya penghancuran akidah Islam. Teori pluralisme yang inklusif (terbuka) berarti, “semua agama memiliki tujuan yang sama dan memiliki kebenaran yang sama.” Mengutip John Hick, Budhy M. Rahman mengartikan teologi pluralisme sebagai, “Other religions are equally valid ways to the same truth.” (Agama-agama lain merupakan cara yang sama dan valid bagi keimananan yang sama).

Mengacu pada John B. Cobb Jr, Budhy mengungkapkan, “Other religions speak of different but equally valid truth.” (Agama-agama lain berbicara tentang cara yang berbeda, tetapi memiliki kebenaran yang sama). Sejalan dengan itu, Budhy MR menyetujui pernyataan Raimundo Panikkar bahwa, “Each religion express es an important part of the truth.” (Masing-masing agama mengungkapkan bagian penting dari kebenaran). 3

Lebih jauh Budhy MR menegaskan, bahwa kerukunan umat beragama hanya dapat dicapai jika para pemeluk agama menganut dan mengembangkan teologi pluralis atau teologi inklusif. Sebaliknya, teologi ekslusif (yang menyakini hanya agama yang dianutnya yang benar, pen.) tidak kondusif dan menjadi akar munculnya konflik antaragama.4

Senada dengan Budhy MR, Komaruddin Hidayat dalam acara Mutiara Subuh AN-TV, 14 Juni 2000, mengatakan bahwa pada masa Nabi Muhammad saw. orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak dikatakan sebagai orang ‘kafir’, tetapi disebut sebagai ‘Ahlul Kitab.’ Dari pernyataan ini, Hidayat seakan-akan ingin menegaskan bahwa Yahudi dan Nasrani merupakan agama yang benar sebagaimana Islam, sehingga para pemeluknya tidak masuk kategori kafir, dan dengan sendirinya akan masuk surga. Demikianlah, menurut pandangan para penganut teologi inklusif-pluralis, agama apapun -- baik Islam, Yahudi, maupun Nasrani — adalah benar dan dapat dijadikan jalan menuju keselamatan. Anand Krishna, salah seorang penganut paham penyamaan kebenaran agama melukiskan, perbedaan antaragama itu hanya dalam cara, tetapi hakikatnya memiliki tujuan yang sama. Ia menegaskan, “…Jalan berbeda, jelas-jelas berbeda. Tetapi apabila kita mengangap tujuan pun berbeda, maka sesungguhnya kita musyrik. Justru kita yang menduakan Allah, menduakan Tuhan. (Republika, 3/8/ 2000).

Said Aqiel Siradj yang dikenal sebagai tokoh Islam dari kalangan Nahdhatul Ulama (NU) menganggap bahwa agama Nasrani, Yahudi, dan Islam memiliki asal geneologis yang sama, bermuara kepada Ibrahim. Ketiga agama tersebut memiliki komitmen yang sama untuk menegakkan kalimat tauhid. Siradj bahkan menegaskan, “…Tauhid Kanisah (gereja, pen.) Ortodoks Syiria tidak memiliki perbedaan yang berarti dengan Islam.” Demikian potongan tulisan Siradj yang dimuat dalam buku Bambang Noorsena, tokoh Kristen Ortodoks Syiria.5

Padahal sesungguhnya kekufuran Nasrani dan Yahudi merupakan sesuatu yang sudah jelas. Qaradhawi menegaskan, kekufuran tersebut terlihat bagi individu Muslim yang memiliki ilmu keislaman walaupun sebesar atom. Hal ini juga merupakan sesuatu yang disepakati oleh seluruh umat Islam dari seluruh mazhab dan aliran pemikiran sepanjang masa, baik kalangan Ahlus Sunnah, Syiah, maupun Khawarij.6



Labels:

KH. Kholil Ridwan: "Aa Gym, Arifin Ilham, Bicaralah!"

Focus Oleh : Redaksi 09 Aug 2005 - 12:30 am

Sudah cukup banyak elemen ummat yang menyatakan diri berada di belakang Majelis Ulama Indonesia (MUI), pasca keluarnya 11 fatwa baru-baru ini. Namun masih banyak pula yang masih belum angkat bicara dan memberi sikap, selain yang memang jelas-jelas menentang.

KH Kholil Ridwan, Ketua Badan Kerjasama Pondok Pesantren se-Indonesia (BKSPPI), mengharapkan tokoh-tokoh Islam bersikap tegas agar ummat tidak terus dilanda kebingungan. “Bicaralah, terutama tokoh-tokoh yang punya banyak jamaah dan sering tampil di media massa. Ustadz Aa Gym, Ustadz Arifin Ilham, bicaralah. Jangan sampai ummat dilanda kebingungan,” kata salah satu Ketua MUI ini ketika menjadi pembicara di acara diskusi panel “Sekularisme, Pluralisme, dan Liberalisme Pasca Fatwa MUI” di Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia (DDII) Jakarta kemarin (7/8).

Menurut Kholil, itu diperlukan karena kaum liberal yang menentang fatwa MUI memanfaatkan jaringan media massa cetak dan elektronik sehingga gaungnya menerobos kemana-mana. Akibatnya, fatwa yang telah dirumuskan dengan sangat cermat oleh para ulama itu seperti dilecehkan.

“Fatwa itu dibahas oleh para ahli hadits, ahli Qur`an, tafsir, dan sebagainya selama berbulan-bulan dan diperkuat dengan dalil-dalil yang jelas. Perumusnya adalah ahli-ahli ibadah. Lha kok tiba-tiba ada orang yang tidak jelas shalatnya lalu menentang dan itu menjadi konsumsi ummat melalui media massa, bagaimana ini? Orang-orang ini bahkan mengatakan ulama konyol dan tolol!” kata Kholil.

Meskipun ada berbagai tantangan, kata Kholil, MUI akan terus maju. “Tugas ulama adalah memberi rambu-rambu kepada ummat. Perkara itu dilaksanakan atau tidak, itu urusan seseorang dengan Allah. Wong Al-Qur`an yang sudah jelas-jelas haq saja banyak yang tidak melaksanakannya.” (pam/Hidayatullah.com)


Kholil Ridwan: Penentang Fatwa MUI Harus Berpikir Ulang

Jakarta, CyberNews. Ketua Majelis Pimpinan Badan Kerja Sama Pondok Pesantren Indonesia, Kholil Ridwan menyatakan pihak yang menentang fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI) tentang pluralisme, liberalisme dan sekularisme harus berpikir ulang karena telah menjadi tugas MUI mengeluarkan fatwa.
"Kalau MUI tidak mengeluarkan fatwa, mereka berarti tidak berfungsi. Fatwa itu sendiri merupakan hasil kajian mendalam dan tidak bisa dibilang main-main," kata Kholil di Jakarta, Sabtu (6/8).

Menurut Kholil, 11 fatwa MUI yang dihasilkan pada Munas VII di Jakarta pada 26- 29 Juli 2005 itu tebalnya 42 halaman dengan memasukkan 102 dalil dan hadist. "Fatwa itu juga didukung oleh 26 ormas muslim yang diundang pada Munas VII, termasuk Nahdatul Ulama (NU), Muhammadiyah dan ICMI. Jadi sangat naif kalau fatwa itu tidak memerhatikan sosio kultural. Maka mereka yang menentang harus berpikir ulang," kata Kholil yang juga merupakan Ketua Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia (DDII) itu.

Kholil menilai, penentang fatwa MUI merupakan "muka-muka lama" terutama sejak terbitnya buku Ahmad Wahid "Pergolakan Pemikiran Islam/Catatan Harian Ahmad Wahid" tahun 1981. Ketika itu, Johan Effendi, presiden World Conference on Religion and Peace (WCRP), salah seorang penentang fatwa MUI, menjadi penyunting buku tersebut.

Menurut Kholil, yang terjadi dengan Ahmadiyah merupakan akibat dari ulah yang mereka lakukan sendiri yakni dengan terus menyebarkan ajarannya, padahal MUI sejak tahun 1980 sudah mengeluarkan fatwa bahwa ajaran Ahmadiyah adalah sesat. "Islam sejak dahulu sudah memberi kebebasan supaya setiap manusia memilih agamanya sendiri, bahkan salah satu ayat suci Al-Quran juga menegaskan itu. Namun, kebebasan beragama bukan berarti merusak agama," kata Kholil.

Dia menambahkan, sejak zaman Nabi Muhammad SAW ,umat Islam sudah hidup pluralisme dalam bermasyarakat bukan beragama. "Kebebasan beragama itu mutlak, dan ini sudah dijamin sejak dahulu," kata dia menegaskan.

Mengenai rencana Forum Umat Islam (FUI) melakukan tindakan hukum terhadap Ulil Abshar Abdalla, koordinator Jaringan Islam Liberal (JIL) yang juga menentang fatwa MUI, menurut Kholil merupakan hal yang wajar. "Kalau memang pernyataannya (Ulil - red) dianggap tidak menyenangkan, wajar saja kalau dilakukan tindakan hukum," kata Kholil.



) Drs I Nyoman Musiasa MAMC Kutanggalkan Paham Universalisasi

Semula, semua agama dianggapnya sama. Peribadatan Hindu, Islam, Budha, Kristen, pernah ia jalani. Meski terlahir sebagai Hindu, Nyoman lebih menempatkan dirinya sebagai seorang universalis, ketimbang harus memilih meyakini salah satu agama. Keajaiban terjadi, ketika ia bermimpi shalat selama tiga malam berturut-turut Sejak itu, Islam menjawab segala kegelisahan batinnya selama ini. Islam pun menjadi pilihan.

Ditemui di kampus tempatnya mengajar, di bilangan Sunter, Jakarta Utara, I Nyoman Musiasa banyak mengungkap perjalanan rohaninya kepada Amanah tentang proses pencariannya menemui kebenaran Islam dalam kurun waktu yang cukup panjang, Nyoman - begitu sapaan akrabnya – lahir dalam keluarga beragama Hindu. Sifat moderatayahnya, tak menghalangi Nyoman untukmengenal Islam sedari kecil. Ayahnya pun iak ada khawatir, ketika anaknya mengikuti pelajaran agama Islam di sekolah, mulai dari SD hingga SMA. Baginya, polajaran agama Islam adalah pengetahuan umum. siapa pun boleh mempelajarinya. Di samping saat itu belum ada sekolah yang menyediakan guru khusus untuk pelajaran agama Hindu.

Nah, bagaimana perjalanan Nyoman hingga memutuskan Islam sebagai pilihan hidupnya, berikut penuturan lelaki berperawakan tinggi, kelahiran Singaraja, 27 November 1953, kepada Amanah :

Saya lahir sebagai orang Bali. Ayah dan ibu saya adalah penganut Hindu yang taat. Pada usia 10 tahun (tahun 1963), kami sekeluarga sempat tinggal di wilayah pemukiman transmigran, Bengkulu. Saat itu wilayahnya masih hutan. Meski hidup dalam kondisi prihatin, ayah ingin agar saya tetap melanjutkan sekolah. Bagi ayah, sekolah itu nomor satu. Itulah karenanya, ayah menitipkan saya pada seorang keluarga Muslim di Bengkulu, Pak Sidik namanya. Pak Sidik adalah seorang Mantri (kepala Asrama di Bengkulu). Ketika itu saya membantu pekerjaan Pak Sidik dengan imbalan saya disekolahkan.

Sejak tinggal di keluarga Muslim itulah, saya mulai mengenal Islam, bahkan suka ikut-ukutan shalat. Bila Pak Sidik shalat Jumat, saya pun ikutan Jumatan. Jadi kalau ditanya, sejak kapan saya mengenal Islam? Jawabannya, ya sejak kecil, sejak umur 10 tahun. Yang pasti, peristiwa itu cukup membekas dalam benak saya' hingga saat ini.

Selang satu setengah tahun kemudian, saya sempat pula tinggal di sebuah keluarga beragama Budha (namanya Wi Keng Han). Di tempat iniiah saya bekerja sebagai penjaga toko, miliknya. Namanya bocah, saya juga sukapergi ke vihara untuk ikut-ikutan .sembahyang bersama majikan. Belum lagi ketika saya duduk dibangku SMA, saya pernah ikut-ikutan teman ke gereja untuk ikut kebaktian. Jadi, sejak remaja, saya sudah mengenal, bahkan menjalani peribadatan empat agama, yaitu Hindu, Islam, Budha, dan Kristen.

Setelah ayah mendapat pekerjaan sebagai guru di Palembang, saya pun diasuh kembali oleh orang tua saya di sana. Karena sejak SD hingga SMP saya selalu ikut pelajaran agama Islam di sekolah, hingga saya tak asing lagi dengan lingkungan saya tinggal, di mana mayoritas penduduknya beragama Islam. Bahkan, di sekolah, saya sering dipuji oleh guru agama Islam, dikarenakan saya selalu bisa menjawab pertanyaan seputar sejarah Islam. Kebetulan saya memang senang membaca dan kuat dalam hafalan. Di Palembang, ayah malah tidak melarang saya untuk ikutan ngaji bersama teman sebaya di kampung. Ayah memang tak terlalu cemas, bila anaknya berpindah agama. Bisa dibayangkan, dari pengalaman saya mengikuti peribadatan beberapa agama yang ada, telah membuat saya bingung saat memasuki usia dewasa, terlebih ketika harus memilih salah satu agama yang diyakini.
Penganut Universalis

Sampai suatu ketika, saya betul-betul bingung untuk memilih agama yang pernah saya jalani sejak kecil. Yang saya rasakan adalah kegelisahan yang sangat untuk terus mencari Tuhan. Tentu saja Tuhan yang sejati dan hakiki. Kalau ditanya Tuhan yang mana, saya pasti bingung menjawabnya. Karena semua Tuhan pernah saya sembah.

Dari kebingungan itu, saya sempat memahami agama bukan sebagai sesuatu yang formalistis. Dengan kata lain, saya tak mesti memilih. Itulah sebabnya, saya cukup menjalani hidup ini sebagai universalis. Yakni tetap meyakini adanya Tuhan, namun tak ada keterikatan harus menentukan Tuhan yang mana.

Saat itu saya merasa semua agama sama. Dalam hati, saya bicara sendiri: selama agama mengajarkan nilai-nilai kebaikan, saya akan ikuti dan jalani sebatas pengetahuan saja. Persoalan sebetulnya, saya sulit untuk memilih Tuhan-tuhan yang ada dalam otak saya.

Dalam proses pencarian itu, jujur, saya selalu iri dengan umat beragama yang khusyuk dalam ibadahnya. Saya bukan hanya merasa iri saat melihat umat Hindu bersembahyang dengan khusyuknya, terhadap umat yang lain pun, seperti umat Budha, Kristen, bahkan Islam sama halnya. Pokoknya kalau melihat orang khusyuk ibadahnya, saya betul-betul iri, dan ingin meniru mereka.

Saat saya ingin berkomunikasi dengan Sang Maha Pencipta, saya bingung, cara mana yang harus saya pakai. Masing-masing punya cara yang berbeda.

Sejak itulah yang membuat saya ingin mengkaji lebih jauh tentang islam, terutama tata cara shalat. Oi saat saya bingung mencari jalan, sebuah keanehan datang, selama tiga hari berturut-turut saya bermimpi sedang shalat. Kenapa harus shalat? Itulah pertanyaan yang muncul di benak saya.

Sejak mimpi shalat itulah, saya membuka buku-buku tentang shalat. Yang pertama saya buka adalah Al Quran terjemahan dan bahasa latinnya, yang saya pinjam dari istri saya yang Muslimah. Meski saya sudah mengucapkan dua kalimat syahadat - ketika nikah pada 1976 (masih usia 23 tahun) - sebetulnya, baru empat tahun yang lalu (2000) saya mendalami ajaran Islam.

Begitu saya baca terjemahan Al Quran, saya masih belum menangkap pengertian ayat yang dimaksud. Akhirnya saya beli Tafsir Ibnu Katsir sebanyak empat jilid. Merasa belum cukup, saya beli Kitab Bukhari-Muslim bekas (ioakan) di Kwitang, hingga tiga set. Dalam tiga hari, buku-buku itu saya lahap1 habis. Dan, setelah saya pahami maksud beberapa ayat Al Quran dan hadis, saya menasakan keistimewaan dan keutamaan ajaran Islam. Di antara keistimewaan itu adalah: Islam memiliki nilai-nilai universal. Sederhana. Tak ada sistem kependetaan. Intinya, setiap individu bias berinteraksi dengan dan bertanggungjawab langsung pada Tuhan, tanpa perantara. Dalam shalat misalnya, seorang imam bisa diganti bila berhalangan.

Selain universal, Islam memiliki kelengkapan dalam hal petunjuk teknisnya. Dalam artian, Islam mengatur aspek hablun minallah dan hablun minannas sesuai tuntunan Al Quran dan hadis. Dari aspek ibadah umpamanya, Islam begitu detil memberi juknis dari hal-hal terkecil, mulai dari cara membersihkan kemaluan setelah beristinja, berwudhu. hingga larangan laki-laki menyetubuhi istrinya yang sedang haid. Tegasnya, Islam sangat menganjurkan umatnya menjaga kebersihan.

Kini, saya mencoba untuk taat. Karena saya pikir, syahadat saja tidak cukup, harus ada konsekuesi lainnya. Bermula dari pembiasaan saya membaca, maka hasil dari membaca, saya dapat mencerna Islam relatif mudah sebagai petunjuk. Itulah sebabnya, saya menilai Al Quran berbahasa Arab tanpa terjemahan belumlah menjadi petunjuk. Bagi saya, tidaklah bermanfaat, membaca Al Quran tanpa tahu maknanya.
Gugat Islam Warisan

Meskipun sebagai "orang baru", semangat (ghirah) ayah empat anak ini - Margaretha Arithama, Agustian Rama Wijaya, Alexander Reynaldo Octavianus, Ananta Victorious Qctabrian - ini, dalam mendalami Islam memang patut ditiru. Reran istrinya, Agustina Laviana, jebolan S2 University of Florida (College of Journalism and Communication, major Public Relations), diakui cukup besar. Terutama mendiskusikan tentang Islam. Nyoman yang berprofesi sebagai dosen bahasa Inggris di sebuah perguruan tinggi swasta, Jakarta, kini sedang semangat-semangatnya mendalami Islam, dengan membaca beberapa literatur Islam. Berikut penuturan Nyoman:

Saya suka heran melihat cara beragama umat "Islam turunan" alias Islam "warisan" dalam menjalankan syariatnya. Dalam hal shalat, misalnya, saya suka ngetes "ustadz konservatif" setelah mengimami shalat berjamaah. Kata saya: "Pak, tadi anda shalat baca surat Al Fatihah juga bacaan shalat lainnya. Bapak tahu artinya?" Mendengar pertanyaan saya, ustadz itu kaget dan terbengong-bengong. Lalu apa jawabnya? "Saya sih cuma ngapalin saja, kurang ngerti maknanya," kata ustadz itu.

Terus terang, saya merasa aneh dengan orang Islam sendiri ketika ditanya tentang agamanya, sering lebih banyak tidak tahunya. Lucunya lagi, mereka sangat emosional kalau dibilang bukan Islam. Jadi bagaimana mungkin, Al Quran bisa menjadi petunjuk, kalau tidak tahu dan memahami maknanya. Padahal, Al Quran adalah jelas menjadi petunjuk, bila kita mengerti dan memahami maknanya, baik yang tersurat maupun yang tersirat, sehingga kita tahu mana yang halal dan mana yang dilarang, Jadi, dalam Islam, syahadat saja tidak cukup.

Tak sedikit "Islam turunan" yang saya temui, tak mempersoalkan Al Quran yang dibaca tanpa tahu maknanya. Saya bingung menghadapi orang Islam semacam ini. Terus terang, saya kasihan dengan "Islam warisan" yang tahun demi tahun tak ada perkembangan pola berpikirnya dalam. memahami dan mengamalkan ajaran agamanya.

Barangkali carapenyampaian saya salah, atau mungkin terkesan menyudutkan. Tapi bagaimana lagi. Satu hal yang membuat saya kesal, saya selalu dibalikin oleh mereka (Islam warisan), Katanya: Ah ..dasar muallaf, orang baru juga, sok tahu." Sebagai muallaf, saya prihatin, bila banyak umat "Islam turunan" tidak mendalami bahkan tidak menjalankan ajaran agamanya sendiri alias Islam KTR Lihat saja, meskipun usianya sudah berkepala empat, tapi cara shalatnya seperti bocah usia 10 tahun. Dari tahun ke tahun, tidak ada peningkatan. Saya memang muallaf, tapi saya berusaha untuk taat dan seialu ingin Jadi yang terbaik.

Jadi, ketertarikan saya terhadap Islam sesungguhnya terletak pada konsep ideal Islam itu sendiri, bukan faktor figur atau individualnya. Karena, nyatanya, tak sedikit orang yang ngaku-ngaku Islam, tapi shalat tidak, berzakat tidak, puasa juga tidak. Dulu, saya memang seorang universalis, tapi saya juga tidak sependapat dengan istilah sekarang: Islam Pluralis, Islam liberal dan sejenisnya. Dan saya pikir, kita harus mengislamkan orang Islam kembali. Setuju? (amanahonline)



Labels: